Cinta Gila

Cinta Gila


Cinta membutakan siapapun yang sedang merasakannya. Membuat bodoh bahkan gila pada yang terkena. Itulah kiranya yang kurasakan saat ini.

“Sayang, jadi kan kita melayat ke tempat kakakmu?” Seorang pria berparas tampan menatapku dengan bola matanya yang berwarna almond.

Aku tersenyum semanis mungkin. “Jadi dong, sekarang kan tepat setahun kak Amel meninggal.”

“Kamu sudah siapkan semuanya?”

“Sudah. Kita tinggal berangkat aja kok!”

Pria tersebut melirik arloji yang melingkar ditangan kanannya. “Udah jam tiga sore nih, gimana kalau kita berangkat sekarang?”

Aku mengangguk dan menggandeng tangannya menuju mobil. Sudah tak sabar aku ingin bercerita pada kak Amel bahwa aku dan kekasihku akan segera melangsungkan pernikahan dalam minggu ini.

Sesampainya di areal pemakaman aku segera berjongkok didepan makam kakakku. Aku memejamkan mata dan berdoa dalam hatiku. Pikiranku melayang pada kejadian satu tahun silam--saat kak Amel masih hidup. Hari dimana saat dia meninggal.
***
#FLASHBACK ON#

Satu tahun yang lalu...

“Tina, kakak punya kabar bahagia.” Kak Amel merangkulku yang sedang sibuk mengerjakan skripsi.

“Kabar apaan kak?” Tanyaku tanpa menghentikan kegiatan.

“Ihhh! Kamu ntar aja deh kerjain skripsinya, kakak mau cerita sama kamu.”

Aku berbalik dan menatap kakakku yang sudah asyik duduk diatas ranjang. “Cerita apa sih kak?”

Tanpa menjawab pertanyaanku dia menunjukkan jari manisnya yang telah tersemat sebuah cincin. “Coba lihat! Bagus kan?”

Aku mengangguk.

“Kakak baru dilamar sama Adrian!” Binar-binar bahagia tampak dari wajahnya.

Aku termenung mendengar penuturan kak Amel. Dia akan menikah? Kalau dia menikah aku hidup seorang diri dong? Sedangkan kedua orangtua kami sudah meninggal. Kenapa secepat itu kak Amel memutuskan untuk menikah dengan kak Adrian? Arrrgghhhh!

“Tina? Kamu kenapa? Kamu ikut bahagia kan? Tenang saja kakak gak akan meninggalkan kamu meskipun kakak nanti menikah.” Kak Amel mendekati dan mengusap sayang rambutku.

Aku tersenyum miris. Sesak rasanya dadaku. “Selamat ya kak, aku harap kakak bahagia.” Ucapku mencoba setulus mungkin.

“Ya sudah kamu lanjutkan kerjain skripsinya. Kakak mau tidur.” Kak Amel melangkahkan kakinya keluar dari kamarku.

Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan berita yang disampaikan kak Amel. Kenapa semua harus seperti ini!

Hingga hari telah berganti menampakkan matahari aku masih tetap terjaga sembari berfikir. Jam menunjukkan pukul 05.00 pagi. Aku menuju kamar kak Amel dengan langkah mantap, aku sudah memutuskan akan mengeluarkan segala unek-unek dihatiku padanya--saat ini juga.

Kebiasaan, sudah jam segini kakakku juga belum bangun! Aku duduk ditepi ranjang sambil menatapnya.

“Kak, aku sayang sama kakak karena kakak satu-satunya keluargaku yang tersisa.” Aku membuka suara. “Harusnya aku bahagia mendengar kakak akan menikah, tapi jujur hatiku sakit setelah tau kakak akan menikah dengan kak Adrian! Tahukan kakak? Sudah sekian lama aku memendam rasaku pada kak Adrian, tapi kenapa kakak tega merebutnya! Padahal segalanya selalu aku berikan pada kakak, harusnya untuk masalah ini kakak mengalah padaku!”

Aku melihat kak Amel mengerjapkan matanya, tampaknya dia terbangun mendengar suaraku yang mungkin berisik. Sebelum semua nyawanya terkumpul aku mengambil sebuah bantal dan dengan tanpa perasaan aku membekap kakakku dengan bantal tersebut. Sia-sia perlawanan darinya, karena tubuhku lebih besar. Kak Amel menggelepar-gelepar bagai ikan kehabisan oksigen.

“Rasakan! Ini balasan buatmu yang telah merebut milikku!” Aku tertawa menggelegar.

Aku hentikan kegiatanku setelah kak Amel berhenti memberontak. Setelah nyawanya sudah hilang. Hahahaha! Selamat jalan kakak!

#FLASBACK OFF#
***
“Sayang? Kenapa kamu tertawa?” Kekasihku memeluk pundakku lembut.

“Aku lagi curhat sama kak Amel.” Dustaku. “Kak Adrian aku sayang kamu!” Aku memeluk pria yang tak lama lagi akan menjadi suamiku.

“Aku juga sayang kamu.” Balas kak Adrian. “Yuk kita pulang, udah sore nih.”

Aku berdiri dan membersihkan debu-debu yang menempel pada pakaianku. Sebelum jauh aku menoleh sekali lagi pada makam kak Amel.

“Maafkan aku kak! Tapi aku lega karena kau tidak akan merebut milikku lagi! Semoga kau tenang dirumah barumu!” Aku berkata dalam hati sembari tersenyum jahat.

About the author

Yandi Mulyadi
Hi, I'm Yandi Mulyadi. IT Analyst who enjoys learning cool tech stuff and sharing it on Website and Youtube.

1 komentar

  1. Reusam Endatu
    Reusam Endatu
    mantap mas artikel-nya
Berkomentarlah di blog ini dengan Etika yang Baik dan Cerdas
✗ Jangan berkomentar yang mengandung SARA atau hal yang NEGATIF lainnya !!
✗ Jangan sampai komentarmu masuk ke dalam SPAM !!
✗ Berkomentarlah yang Masuk di Akal
✗ Usahakan Jangan Menggunakan Kata Kasar
✗ Tolong Jangan Membuat Link Porno dan Sebagainya