
Apa yang lebih buruk daripada ditolak oleh seseorang yang kamu cintai?
Mencintai seseorang, tetapi tidak memiliki cukup keberanian untuk mengatakan kepada orang tersebut.
Apa yang lebih buruk dari itu?
Mencintai seseorang, tidak memiliki cukup keberanian untuk mengatakan kepada orang tersebut, dan mengetahui ia tidak akan pernah menjadi milikmu.
***
"Dika dan Diana. Bersama selamanya" Aku membaca sebuah kalimat yang tertulis dengan indah di bagian belakang sebuah foto. Foto seorang anak laki-laki dan anak perempuan, kamu dan aku, kita. Kamu memakai T-shirt favoritmu dan celana jeans ketat. Aku mengenakan gaun pink dan stoking warna kulit. Kita tampak begitu bahagia saat itu, mencoba untuk berpose selucu mungkin. Aku ingin kembali ke hari itu; hari ketika aku bisa mencium dan memelukmu sesuka hatiku, hari ketika aku tidak merasa malu untuk duduk di pangkuanmu, hari ketika aku tidak tahu takdir akan membawaku ke penderitaan ini.
Aku membalik foto itu dan aku membelai wajahmu. Kamu sangat tampan, tapi itu bukan itu alasan mengapa aku jatuh cinta padamu. Bahkan aku sendiri tidak yakin kalau aku punya alasan dibalik rasa cintaku yang begitu besar terhadapmu. Aku hanya merasa nyaman berada di sampingmu. Aku merasa aman setiap kali kamu berada di sisiku.
Aku memejamkan mata dan tiba-tiba sebuah adegan menyedihkan tergambar dengan jelas di benakku.
Di suatu malam dingin, seorang gadis kecil yang kotor duduk di trotoar. Dia memeluk sebuah boneka beruang yang kotor seperti dirinya. Dia menangis, tapi tidak ada air mata keluar dari matanya. Dia tidak bisa meneteskan air mata lagi setelah menghabiskan berjam-jam menangis seperti anak kecil; hmm ... dia memang seorang anak kecil. Dia tampak lapar, dan dingin, dan kesepian. Kekejaman hidup membuatnya tidak bisa menikmati masa kecilnya. Dia seharusnya menjadi seorang gadis ceria seperti gadis-gadis lain seusianya. Dia seharusnya bermain Barbie dengan teman-temannya atau menonton kartun dengan saudara-saudaranya, tidak duduk di trotoar sendirian.
Gadis kecil itu tidak seharusnya menderita. Aku akan melakukan apa pun untuk membuatnya merasa lebih baik, kalau saja aku ada di sana. Tunggu, aku ada di sana. Aku adalah gadis itu.
Ibuku dan aku adalah pengemis. Aku tidak tahu siapa ayahku dan aku tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan setiap kali aku bertanya pada ibu; jadi aku menyerah, aku berhenti menanyakan pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab itu.
Aku masih terlalu muda untuk memahami kehidupan yang kami jalani. Aku tidak pernah peduli pada bagaimana orang memandang kami. Aku tidak pernah peduli tentang orang-orang kaya yang menutupi hidung mereka setiap kali kami berjalan ke arah mereka. Semua yang aku tahu hanyalah, selama kami masih bisa makan, kami tidak perlu mengkhawatirkan apapun.
Aku begitu mencintai ibuku. Dia tidak pernah gagal menunjukkan betapa dia juga mencintaiku. Dia membelikan sebuah boneka beruang bekas dengan uang yang susah payah dikumpulkannya saat ulang tahunku yang ke-6. Dia memastikan aku makan makanan yang cukup bahkan jika itu berarti dia harus pergi tidur dengan perut kosong. Ketika malam dingin tiba, dia akan memelukku erat sambil menyanyikan lagu nina bobo sampai aku tertidur. Kami miskin, sangat miskin, tapi kami senang karena kami saling mencintai. Dia adalah satu-satunya hal yangku miliki. Sedikitpun aku tidak pernah berpikir bahwa Tuhan bisa begitu kejam merebutnya dari sisiku.
Aku bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi sore itu. Aku dan ibuku sedang kelaparan karena kami tidak makan apa-apa selama satu hari. Tidak ada orang yang cukup baik untuk menggali ke dalam kantong mereka dan memberikan kami sejumlah uang. Kami berjalan langkah demi langkah di sepanjang kota, pindah dari satu tong sampah ke tong sampah lain, mencoba untuk menemukan sesuatu yang bisa membantu kami bertahan hidup.
"Diana, kamu duduk di sini dulu ya, Ibu mau pergi sebentar. " Ibu menyuruhku untuk duduk di bawah sebuah pohon kamboja besar.
"Ibu mau ke mana? Jangan tinggalin Diana." Aku memegang pergelangan tangan kanannya.
"Sebentar saja, ibu mau beli makanan."
"Tapi kita kan udah nggak punya uang."
Dia tersenyum, "Ibu masih punya sedikit uang."
"Ibu bohong!" Aku sangat yakin kalau kami sudah tidak memiliki uang sepeserpun.
"Ibu nggak bohong, Sayang. Tunggu di sini ya. "Dia menarik tangannya dan berlari dengan cepat. Aku tidak punya cukup energi untuk mengejarnya, jadi aku hanya duduk di sana, menunggunya kembali.
Aku menunggu sekitar 10 menit, tapi rasanya seperti bertahun-tahun. Akhirnya ibuku datang. Dia berlari dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Dia membawa sebuah kantong plastik. Aku bertanya-tanya apakah ada beberapa makanan di dalamnya.
"Diana ... Lari.... "dia berteriak padaku.
Aku berdiri, "Apa?" Aku bertanya.
"Itu pencurinya!" Teriak seorang wanita dengan keras, dia menunjuk ibuku. Aku baru menyadari bahwa ada sekelompok orang yang mengejarnya.
"Lari ...." ibuku berteriak lagi.
Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tubuhku kaku. Aku tidak bisa menggerakkan kakiku. Aku tidak bisa membuka mulutku. Aku tidak bisa mengedipkan mataku. Aku melihat orang-orang itu memukul ibuku. Aku ada di sana, aku yang belum genap berumur 7 tahun ada di sana untuk menyaksikan bagaimana ibuku dipukul secara brutal dan tanpa ampun oleh orang-orang jahat itu.
"Hentikan...." Aku berteriak dengan sangat keras, tapi tidak ada yang mendengarku. Mereka memukul dan menendang ibuku seolah-olah dia adalah seekor anjing, "Hentikan..." Aku menjerit lagi lalu aku berlari ke arah ibuku yang penuh dengan memar dan luka. Darah mengalir dari luka menganga di beberapa bagian tubuhnya.
"Ini untukmu sayang, makan ini." Dia memberiku kantong plastik, dia hampir tidak bisa bernapas.
Aku menangis keras sambil geleng-gelengkan kepala, "Ibu kenapa? Ibu baik-baik aja kan? Kenapa mereka memukul ibu? "
Ibuku tidak menjawab, dia menutup matanya.
"Bu! Bangun! Jangan tidur! "Aku mengguncang tubuhnya, tapi dia tidak bergerak. Dia... Ibuku.... sudah meninggal.
"Apa dia ibumu?" Salah satu orang yang memukul ibuku bertanya.
Aku tak menjawab. Aku menangis lebih keras sambil memeluk ibuku, "Bangun, Bu! Jangan tinggalin Diana sendiri! "
Orang-orang di sekitarku merasa sangat menyesal, mereka meminta maaf, namun permintaan maaf mereka tidak bisa membawa ibuku kembali hidup. Dia telah meninggal. Dia telah pergi untuk selamanya.
Aku kehilangan segalanya hari itu. Aku menyalahkan orang-orang tak berperasaan itu, aku menyalahkan Tuhan, aku menyalahkan diriku sendiri, "Tuhan, apakah Kau benar-benar ada? Tidakkah Kau pikir aku terlalu muda untuk menerima cobaan ini?"
Aku sedang duduk di trotoar, memeluk boneka beruang pemberian ibuku dengan erat, ketika tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depanku. Seorang pria tua keluar dari mobil itu dan bertanya, "Adik ngapain sendirian di sini? Orang tuanya mana? "
Aku menggeleng, tidak tahu harus berkata apa.
"Adik di sini sendiri?" Tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
"Kebetulan bapak tidak punya anak perempuan, mau ya tinggal sama bapak?"
Aku mengangguk lagi.
Dia membawaku ke rumahnya dan dia memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Dia dan istrinya memberiku cinta hampir seperti ibuku. Aku merasa sangat senang dan kamu, ya kamu, melengkapi kebahagiaanku. Kamu menerangi duniaku yang gelap, kamu membawa kebahagiaan dalam hidupku yang menyedihkan. Aku tahu aku masih terlalu muda untuk jatuh cinta, tapi aku tidak bisa meningingkarinya. Aku benar-benar ingin kamu tahu apa yang aku rasakan.
"Diana!" Seseorang menepuk bahuku.
"Kak Dika!" Itu kamu, orang yang aku cintai.
Aku menutup foto kita dengan tangan kanan dan berusaha terlihat normal, "Apa yang kakak lakukan di sini?"
"Papa dan mama udah nunggu di bawah dari tadi, udah waktunya makan malam tau! Eh, apa yang kamu sembunyikan tu?”
"Nggak ada." Sekarang aku menyembukan foto itu di belakang punggungku.
"Ayolah, kakak pengen liat." Kamu menarik tanganku.
"Jangan!" Aku berteriak, tapi sudah terlambat. Kamu berhasil merebut foto itu dari genggamanku.
"Haha ni foto jadul banget, saat ultahmu yang kedelapan ya? Ya ampun, pipimu temben banget! Kakak jadi inget pas pertama kali kamu dateng ke sini, kamu kurus kering. Hahaha."
Saat pertama kali aku datang ke sini, aku mengulang kalimat yang kamu ucapkan dalam hati. Air mata jatuh dari kedua mataku tak terhindarkan.
Kamu terlihat merasa bersalah, "Maaf, kakak nggak bermaksud kayak gitu. Maafin kakak ya, Diana. " Kamu memelukku dan membelai kepalaku dengan penuh kasih sayang. Oh .... Dika, aku tidak bisa menahannya lagi!
Aku melonggarkan pelukanmu dan aku melihat ke dalam matamu, "Dika, aku mencintaimu."
Kamu tersenyum, "Aku juga mencintaimu, adikku." Kamu mencium pipiku, "Sekarang kita harus makan, papa dan mama pasti udah ngomel karena kelamaan nunggu. "
Aku benar-benar ingin berteriak. Aku ingin memberitahumu kalau aku mencintaimu sebagai seorang perempuan mencintai laki-laki, bukan sebagai saudara perempuan mencintai kakaknya. Aku benar-benar ingin memberitahumu, tapi sesuatu menghentikanku. Sebuah fakta, fakta kalau kamu adalah kakakku dan aku adalah adikmu. Aku tidak boleh serakah. Memiliki kakak sebaik dirimu dan orang tua sehebat orang tua kita merupakan anugrah yang begitu besar untukku, aku tidak boleh meminta lebih. Aku akan memendam rasa ini dalam hatiku meskipun itu membunuhku.