
Melangkah pelan Avi berjalan meninggalkan kantor sebuah label rekaman yang baru saja menolak memproduksi lagu-lagu ciptaannya. Ini adalah perusahaan ke empat yang didatanginya. Ada raut kesedihan di wajahnya. Tapi Avi pantang menyerah, dia akan terus menawarkan lagu-lagu ciptaannya dan tetap berkarya. Baginya menyerah berarti kalah.
Avi adalah gadis yang sejak kecil bercita-cita untuk menjadi musisi internasional, dia pandai bermain piano dan biola. Kesungguhannya menekuni musik dan bakat yang dimiliki membuat Avi sudah bisa mencipta dan mengkomposisi lagu di usia 17 tahun.
Avi pun terus mencoba mencari label rekaman, hingga akhirnya Avi mendapatkannya. Dia sangat senang, namun sayangnya tidak banyak yang menyukai lagu Avi. Suatu hari, atas promosi label yang memproduksi karyanya, Avi dipanggil untuk mengisi sebuah acara musik di televisi. Penampilannya dalam usia yang sangat muda membuat Avi memukau banyak pemirsa. Avi pun mulai di kenal banyak orang, lagunya pun laku di pasaran.
Keberuntungan memang tengah menyertainya. Ketika sedang mempromosikan albumnya, Avi bertemu dengan seseorang yang ternyata adalah produser musik terkenal dari Amerika. Dia menawarkan Avi untuk mempromosikan Avi. Avi sangat tertarik dan langsung setuju.
Setelah bernegosiasi dengan label yang sudah lebih dahulu memproduksi album Avi, akhirnya dia berangkat ke Amerika untuk melakukan rekamanan. Albumnya meledak. Beberapa konser kecil pun digelar oleh promotornya di negeri Paman Sam itu. Hanya dalam waktu dua tahun, di usia ke dua puluh Avi berhasil menaklukan dunia dengan melakukan serangkaian konser tour ke beberapa negara. Jepang, Korea, Belanda, Italia, Amerika, dan Inggris kini bukan tempat asing lagi bagi dirinya. Avi telah membuktikan semangat pantang menyerah telah mengantarnya menjadi musisi internasional.