
Aku mengenalnya belum lama ini. Dia gadis yang baik, pendiam tapi perasa. Anaknya imut dan manis. Kita jadi akrab satu sama lain. Dia sering curhat tentang kehidupannya. Aku jadi pendengar yang baik, kadang kasih solusi buatnya. Semakin hari kita jadi dekat. Kadang dia manja padaku. Dia mulai menunjukkan tanda-tanda menyukai ku. Perhatian ke aku, mengingatkan aku sudah makan, mengingatkan tidur jangan malam-malam. Pokoknya sangat perhatian. Aku juga menyukai kepribadiannya mandiri, lucu kadang kalau ngobrol tidak nyambung tapi aku suka. Pipinya yang chubby sering memerah waktu ku goda, tersipu malu, senyum nya manis bikin hatiku bergetar juga.
Suatu hari dia mengungkapkan isi hatinya padaku. "jujur aku menyukaimu, menyayangimu" katanya. Aku hanya terdiam menatapnya. "apa kamu juga ada perasaan suka, sayang dan cinta ke aku" katanya lagi. Aku bingung harus jawab apa padanya. Disatu sisi tanpa ku sadari aku juga menyayanginya. Ada perasaan takut kehilangannya. Tapi itu tidak mungkin lagi, karena aku sudah punya calon istri.
Memang aku salah padanya. Tidak pernah jujur dari awal kita bertemu. Kalau aku telah punya kekasih. Aku sudah lama menjalin kasih sama calon istri ku ini mulai SMA. Entah kenapa aku tidak bisa dan tidak berani jujur padanya. Aku tidak ingin menyakiti, melukai hati dan perasaannya. Apa karena aku laki-laki yang baru merasakan di cintai seorang wanita. Aku juga tidak munafik, aku suka ada yang perhatian,sayang dan cinta padaku. Kadang aku berpikir, dengan calon istri ku, aku tidak mendapatkan perhatian itu. Kami juga sering bertengkar kecil, berselisih paham. Aku memang mencintai calon istri ku begitu pun dengan calon istri ku. Apa karena lamanya kita menjalin hubungan, ada rasa bosan merasuk pikiranku. Kemudian datang seorang wanita yang begitu tulus mencintai ku.
Kebimbangan hati ini membuatku pusing. Tapi tidak mungkin aku selingkuh dengannya. Aku tidak mau bermain api yang ku nyalakan sendiri. Aku tidak mau melukai hati wanita yang kucintai dan mencintai ku.
Kurang seminggu akan akan menikah dengan calon istriku. Aku harus mengatakan ini padanya.
Sepulang kerja aku sudah ada janji bertemu dengannya. Aku akan menjelaskan padanya. Walau akhirnya nanti pasti menyakitkan.
Aku sudah menunggunya di cafe, aku tidak mau terlambat datang, lebih baik aku yang menunggunya.
Wajahnya berseri-seri, tersenyum melambaikan tangan ke arah ku. Aku cuma tersenyum. Dia terlihat cantik, kita bersalaman. Lalu dia duduk di hadapan ku. Menatapku, sorot matanya tajam menembus mataku. Aku tidak berani menatapnya terlalu lama. "kamu kenapa, sakit ya kok pucat wajahmu" katanya. "tidak" jawabku. Aku mengajak mu ke sini, aku pengen ngomong sesuatu" kataku. "pengen ngomong apa, kangen ya sama aku" godanya. Aku menghela nafas "aku akan menikah seminggu lagi" kata ku pelan. Ku lihat raut muka nya merah menahan perih. Dia terdiam menatapku. Lama kita terdiam dengan perasaan masing-masing. "dengan siapa kamu menikah" ucapnya. "kamu pasti mencintai calon istri mu itu, maaf aku telah mencintaimu. Mencintai laki-laki yang sudah punya calon istri. Walaupun sakit. Semoga kamu bahagia, jangan sia-sia kan pilihanmu. Jaga perasaan nya" ucapnya. "aku ingin kamu datang di pernikahan ku nanti" kataku. Sungguh kejam nya aku berkata begitu padanya. Dia tidak menjawab lalu pergi meninggalkan ku sendiri.
Hari pernikahanku tiba, banyak tamu berdatangan. Mataku terus mencari-cari nya di antara tamu. Tapi tak ku temukan sosoknya. Tidak mungkin dia datang di pernikahanku pikirku. Acara hampir selesai, tak kusangka dia datang. Aku deg-degan melihatnya. Dia berjalan ke arahku. Aku tau dia sedih, aku tau dia menguatkan hati untuk datang. Dia menjabat tanganku dan istriku. Dia tersenyum "selamat ya semoga bahagia selamanya" ucapnya. Istriku mengajaknya foto bersama. Kini disamping kanan kiri ku ada 2 wanita yang sama-sama mencintaiku. Di samping kanan ku ada istri ku tersenyum bahagia dan disamping kirimu ada wanita yang terluka hatinya tersenyum perih. Untukmu maafkan aku..